Oikumene: Pengertian Lengkap dan Peran Pentingnya dalam Gereja Masa Kini

Table of Contents

Pernah denger kata Oikumene? Mungkin buat sebagian orang, kata ini terdengar asing atau identik banget sama hal-hal yang berbau gereja atau agama. Nah, biar gak bingung lagi, yuk kita kupas tuntas apa sih yang dimaksud dengan Oikumene itu. Secara gampangnya, Oikumene itu merujuk pada upaya untuk menciptakan kesatuan, kerjasama, dan saling pengertian di antara berbagai denominasi atau tradisi dalam kekristenan.

Apa yang dimaksud oikumene
Image just for illustration

Kata ini sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu oikoumene, yang artinya adalah ‘seluruh dunia yang dihuni’ atau ‘seluruh dunia yang beradab’. Jadi, dari artinya aja udah kelihatan kan, kalau Oikumene itu punya cakupan yang luas, nggak cuma satu kelompok aja. Dalam konteks kekristenan, oikoumene kemudian berkembang maknanya menjadi seruan atau gerakan untuk mempersatukan umat Kristen di seluruh dunia.

Sejarah Singkat Lahirnya Gerakan Oikumene

Gerakan Oikumene ini bukan sesuatu yang baru muncul kemarin sore, lho. Akarnya bisa dibilang udah ada sejak lama, bahkan sejak zaman para rasul yang udah prihatin melihat perpecahan di antara jemaat mula-mula. Namun, sebagai sebuah gerakan yang terorganisir dan punya tujuan jelas, Oikumene modern baru bener-bener menggeliat pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kenapa kok bisa muncul gerakan ini di zaman itu? Ada beberapa faktor pemicu. Salah satunya adalah semangat misi atau penginjilan yang lagi gencar-gencarnya dilakukan oleh gereja-gereja dari Eropa dan Amerika ke berbagai belahan dunia. Ketika para misionaris dari berbagai gereja (misalnya dari gereja Lutheran, Calvinis, Anglikan, Methodis, dll.) bertemu di ladang misi yang sama, mereka sadar betapa aneh dan gak efektifnya kalau mereka justru bersaing atau bahkan bertikai satu sama lain di depan orang-orang yang mau mereka layani.

Mereka sadar, pesan kasih dan kesatuan yang diajarkan Yesus Kristus jadi kurang meyakinkan kalau para pembawanya justru terpecah-pecah. Nah, kesadaran inilah yang kemudian mendorong mereka untuk mulai bertemu, berbicara, dan mencari cara untuk bekerja sama. Konferensi Misi Dunia di Edinburgh, Skotlandia, pada tahun 1910 sering dianggap sebagai tonggak sejarah penting dimulainya gerakan Oikumene modern ini.

Setelah Konferensi Edinburgh 1910, semangat kerjasama ini terus berkembang. Muncul berbagai inisiatif dan organisasi yang bertujuan untuk dialog dan kerjasama antar gereja. Misalnya, gerakan “Faith and Order” (Iman dan Tata Gereja) yang fokus pada isu-isu teologis dan struktural gereja, serta gerakan “Life and Work” (Hidup dan Karya) yang lebih fokus pada isu-isu sosial dan kemanusiaan. Dua gerakan ini, ditambah dengan International Missionary Council (IMC), akhirnya bergabung dan melahirkan sebuah badan penting dalam gerakan Oikumene global.

Badan Sentral Oikumene: Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches - WCC)

Puncak dari berbagai inisiatif awal gerakan Oikumene adalah terbentuknya Dewan Gereja Dunia atau World Council of Churches (WCC) pada tahun 1948 di Amsterdam, Belanda. Pembentukan WCC ini jadi momen historis yang menyatukan banyak gereja dari berbagai tradisi Kristen (Protestan, Ortodoks, Anglikan, dan beberapa gereja lain) dalam satu payung organisasi. Katolik Roma saat itu belum bergabung sebagai anggota penuh, tapi mereka juga punya hubungan dan seringkali berpartisipasi dalam dialog dan kegiatan WCC.

Dewan Gereja Dunia
Image just for illustration

WCC punya peran sentral dalam memajukan gerakan Oikumene di tingkat global. Tujuan utamanya adalah menyerukan dan memfasilitasi kesatuan yang kelihatan dari gereja-gereja, meskipun mengakui adanya keragaman tradisi dan praktik. WCC menjadi forum bagi gereja-gereja anggota untuk bertemu, berbagi pengalaman, mendiskusikan isu-isu teologis dan sosial yang relevan, serta melakukan aksi bersama untuk keadilan dan perdamaian di dunia.

Selain WCC, ada juga Dewan Gereja Nasional di banyak negara, termasuk di Indonesia yang kita kenal dengan nama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). PGI ini adalah wadah Oikumene bagi gereja-gereja Protestan dan Anglikan di Indonesia. Peran PGI sama pentingnya di tingkat nasional, yaitu mengupayakan kesatuan dan kerjasama antar gereja di Indonesia, serta menjadi suara bersama gereja-gereja dalam menghadapi isu-isu kebangsaan dan sosial.

Dimensi-Dimensi dalam Gerakan Oikumene

Gerakan Oikumene itu gak cuma satu aspek aja, tapi punya beberapa dimensi yang saling terkait. Memahaminya bisa membantu kita melihat betapa kompleks tapi indahnya upaya persatuan ini.

1. Oikumene Teologis

Ini adalah dimensi yang paling mendasar, yaitu upaya untuk mencari kesamaan dan saling memahami dalam keyakinan atau ajaran gereja. Gereja-gereja yang terpecah seringkali punya perbedaan dalam memahami Alkitab, sakramen (seperti baptisan dan perjamuan kudus), struktur gereja, atau isu-isu teologis lainnya. Dalam Oikumene teologis, para teolog dan pemimpin gereja duduk bersama, berdialog, mempelajari kembali Alkitab dan tradisi gereja, serta mencoba menemukan titik temu atau setidaknya saling mengakui keyakinan satu sama lain.

Dialog teologis ini butuh kesabaran dan kerendahan hati. Tujuannya bukan untuk menyeragamkan semua gereja jadi satu model aja, tapi lebih ke arah rekonsiliasi atau penyembuhan perpecahan yang sudah terjadi berabad-abad lamanya. Ini adalah proses yang panjang dan seringkali menantang.

2. Oikumene Struktural/Institusional

Dimensi ini berkaitan dengan upaya gereja-gereja untuk menjalin hubungan resmi antar institusi gereja. Ini bisa berupa keanggotaan dalam dewan gereja (seperti WCC atau PGI), perjanjian saling mengakui baptisan atau pelayan (ministri), atau bahkan bentuk-bentuk persatuan gereja secara struktural (meskipun ini lebih jarang dan sulit terjadi).

Contoh Oikumene struktural adalah ketika gereja-gereja secara resmi mengakui bahwa gereja lain adalah bagian dari gereja Kristus yang satu, meskipun dengan perbedaan tradisi. Atau ketika gereja-gereja sepakat untuk tidak saling “mencuri” anggota dari gereja lain, melainkan saling menghormati keberadaan masing-masing.

3. Oikumene Spiritual

Dimensi ini lebih bersifat rohani dan personal. Ini tentang kesadaran bahwa semua orang percaya pada dasarnya dipersatukan oleh Roh Kudus melalui iman kepada Yesus Kristus, meskipun mereka berasal dari denominasi yang berbeda. Oikumene spiritual bisa diwujudkan melalui doa bersama lintas denominasi, ibadah bersama pada momen-momen khusus (misalnya Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Kristen), atau saling mendukung dan menguatkan sebagai sesama pengikut Kristus.

Ini mungkin dimensi yang paling mudah diakses oleh jemaat awam. Kamu gak perlu jadi teolog atau pemimpin gereja untuk berdoa bersama saudara-saudari seiman dari gereja lain. Intinya adalah pengakuan dan pengalaman bahwa di balik perbedaan gerejawi, kita semua adalah satu keluarga dalam Kristus.

4. Oikumene Praktis/Lokal

Ini adalah dimensi Oikumene yang paling kelihatan dalam kehidupan sehari-hari atau di tingkat komunitas lokal. Ini tentang kerjasama antar gereja dalam aksi-aksi sosial, pelayanan masyarakat, advokasi untuk keadilan, penanggulangan bencana, atau kegiatan-kegiatan lain yang menunjukkan kasih Kristus secara konkret kepada dunia.

Kerja Sama Gereja Lintas Denominasi
Image just for illustration

Misalnya, gereja-gereja di satu kota atau wilayah bekerja sama mendirikan posko bantuan saat banjir, mengadakan donor darah bersama, atau membuka pusat kegiatan belajar masyarakat. Ini adalah cara gereja-gereja menunjukkan kesatuan mereka bukan hanya dalam kata-kata tapi juga dalam perbuatan, untuk kebaikan bersama.

Mengapa Oikumene Itu Penting?

Mungkin ada yang bertanya, “Emang kenapa sih gereja-gereja harus bersatu atau bekerjasama? Bukannya beda-beda juga gak apa-apa?” Nah, ada beberapa alasan kuat mengapa Oikumene itu penting:

  1. Mandat dari Yesus Sendiri: Dalam Injil Yohanes pasal 17, Yesus berdoa agar para pengikut-Nya menjadi satu, sama seperti Ia dan Bapa adalah satu. Doa ini seringkali dianggap sebagai dasar Alkitabiah paling penting untuk upaya kesatuan gereja. Perpecahan gereja dianggap sebagai sesuatu yang menyedihkan hati Tuhan dan melemahkan kesaksian gereja di dunia.

  2. Kesaksian yang Lebih Kuat: Bayangin kalau gereja-gereja itu pecah-pecah dan saling menyerang. Gimana dunia mau percaya pada pesan kasih dan pendamaian? Ketika gereja-gereja bisa menunjukkan kesatuan dalam keragaman, itu menjadi kesaksian yang jauh lebih meyakinkan tentang kuasa kasih Allah yang mampu mendamaikan segala perbedaan.

  3. Pelayanan yang Lebih Efektif: Banyak tantangan dunia modern (kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dll.) itu terlalu besar untuk dihadapi oleh satu gereja saja. Dengan bekerja sama melalui Oikumene, gereja-gereja bisa menggabungkan sumber daya, talenta, dan kekuatan mereka untuk melakukan pelayanan yang lebih luas dan efektif demi kesejahteraan masyarakat.

  4. Memperkaya Pemahaman: Setiap denominasi atau tradisi gereja punya kekayaan spiritual, teologis, dan praktisnya masing-masing. Melalui dialog dan perjumpaan Oikumene, gereja-gereja bisa saling belajar, saling memperkaya pemahaman tentang iman, dan bahkan saling mengoreksi dengan kasih. Ini membuat gereja secara keseluruhan menjadi lebih utuh dan komprehensif.

Tantangan dalam Gerakan Oikumene

Meskipun tujuannya mulia, perjalanan gerakan Oikumene ini gak selalu mulus. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi:

  • Perbedaan Doktrinal dan Teologis: Ini tantangan klasik. Perbedaan dalam memahami ajaran inti Kekristenan seringkali menjadi batu sandungan yang paling sulit diatasi.
  • Perbedaan Budaya dan Latar Belakang: Gereja-gereja tumbuh dalam konteks budaya yang berbeda-beda. Perbedaan ini bisa memengaruhi cara beribadah, struktur kepemimpinan, dan cara memandang dunia, yang kadang bisa menimbulkan ketegangan.
  • Sejarah Perpecahan: Luka akibat perpecahan di masa lalu (misalnya Reformasi Protestan) masih bisa terasa dan memengaruhi hubungan antar gereja sampai sekarang. Butuh waktu dan proses rekonsiliasi yang dalam untuk menyembuhkan luka-luka sejarah ini.
  • Eksklusivisme dan Fanatisme: Masih ada gereja atau kelompok yang merasa diri paling benar dan menolak berinteraksi dengan gereja lain. Sikap eksklusif seperti ini jelas menjadi penghalang besar bagi gerakan Oikumene.
  • Kepentingan Institusional: Kadang, gereja sebagai sebuah institusi punya “kepentingan” atau “identitas” yang sangat kuat dan merasa terancam dengan ide persatuan atau kerjasama, karena takut kehilangan kekhasan atau bahkan jemaatnya.

Menghadapi tantangan ini butuh komitmen yang kuat dari semua pihak, terutama para pemimpin gereja, dan juga peran aktif dari jemaat awam.

Fakta Menarik Seputar Oikumene

  • Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Kristen rutin dirayakan setiap tahun, biasanya tanggal 18-25 Januari, melibatkan gereja-gereja di seluruh dunia.
  • WCC punya program dan komisi yang sangat beragam, gak cuma soal teologi, tapi juga keadilan gender, hak asasi manusia, isu lingkungan, dan dialog antaragama.
  • Hubungan antara Gereja Katolik Roma dan WCC terus berkembang. Meskipun Gereja Katolik bukan anggota penuh WCC, mereka adalah anggota aktif dalam komisi “Faith and Order” dan punya hubungan kerjasama yang erat.
  • Di beberapa negara, upaya Oikumene lokal sangat kuat. Misalnya, di Indonesia, PGI sering bekerja sama dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang merupakan badan Oikumene internal Gereja Katolik di Indonesia, dalam isu-isu kemasyarakatan.

Pekan Doa Sedunia
Image just for illustration

Bagaimana Kita Bisa Berpartisipasi dalam Oikumene?

Gerakan Oikumene bukan hanya urusan para pemimpin gereja atau teolog aja, tapi juga panggilan bagi setiap orang Kristen. Kita bisa berpartisipasi dalam Oikumene dalam kehidupan sehari-hari, lho:

  • Membangun Hubungan: Berkenalan dan berteman dengan orang Kristen dari denominasi lain. Cobalah untuk memahami dan menghargai tradisi mereka.
  • Doa: Bergabung dalam kegiatan doa bersama lintas gereja atau mendoakan kesatuan gereja secara pribadi.
  • Belajar: Mempelajari lebih banyak tentang sejarah dan ajaran gereja lain dengan pikiran terbuka. Baca buku atau ikuti diskusi yang membahas topik Oikumene.
  • Kerja Sama Lokal: Ikut serta dalam kegiatan sosial atau pelayanan masyarakat yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh gereja-gereja di lingkunganmu.
  • Menghindari Sikap Merendahkan: Jangan menghakimi atau meremehkan gereja atau tradisi lain. Hargai bahwa Allah bekerja dalam berbagai cara di tengah umat-Nya.

Gerakan Oikumene adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir yang sudah tercapai. Masih banyak langkah yang harus diambil untuk mencapai kesatuan yang penuh seperti yang didoakan Yesus. Namun, setiap langkah kecil menuju saling pengertian, kerjasama, dan kasih antar sesama pengikut Kristus adalah kontribusi berharga bagi Oikumene.

Jadi, Oikumene itu lebih dari sekadar kata sulit. Ini adalah semangat, gerakan, dan panggilan bagi seluruh umat Kristen untuk bersatu, bukan untuk menjadi sama persis, tapi untuk menjadi satu dalam Kristus di tengah keberagaman yang ada. Ini adalah upaya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kasih Kristus mampu melampaui tembok-tembok pemisah yang dibangun oleh manusia.

Gimana nih, sekarang udah lebih paham kan apa itu Oikumene? Punya pengalaman menarik atau pandangan soal Oikumene? Jangan ragu lho buat berbagi di kolom komentar!

Posting Komentar