Duduk Tawaruk: Apa Sih Maksudnya? Panduan Lengkap + Hukumnya!

Table of Contents

Pernahkah kamu memperhatikan gerakan duduk dalam shalat, terutama saat tasyahhud akhir? Ada dua posisi duduk yang umum dilakukan, salah satunya adalah duduk tawarruk. Istilah ini mungkin sudah sering didengar, tapi apa sih sebenarnya yang dimaksud duduk tawarruk itu? Mari kita bedah tuntas.

Duduk tawarruk adalah salah satu posisi duduk dalam shalat yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad ï·º. Posisi ini khas dan berbeda dengan duduk iftirasy, posisi duduk lainnya yang juga sering kita lakukan dalam shalat. Tawarruk ini punya ciri khusus pada posisi kaki dan pantat kita saat duduk.

Posisi duduk tawarruk ini bukan sekadar gaya-gayaan, tapi punya makna dan hikmah tersendiri dalam pelaksanaan ibadah shalat kita. Memahami dan melakukannya dengan benar bisa membuat shalat kita semakin sempurna dan sesuai tuntunan. Jadi, penting banget nih buat tahu detailnya.

duduk tawaruk dalam shalat
Image just for illustration

Bagaimana Sih Posisi Duduk Tawarruk Itu?

Nah, biar kebayang gimana bentuknya, mari kita jelaskan detail posisi duduk tawarruk ini. Posisi ini biasanya dilakukan pada bagian akhir shalat, yaitu saat tasyahhud terakhir sebelum salam.

Cara duduk tawarruk adalah sebagai berikut:
1. Kaki Kanan: Telapak kaki kanan ditegakkan, dan jari-jari kaki kanan menghadap ke arah kiblat.
2. Kaki Kiri: Kaki kiri dikeluarkan atau dijulurkan ke arah kanan. Sebagian riwayat menyebutkan telapak kaki kiri berada di bawah betis kaki kanan, atau keluar sepenuhnya ke samping kanan.
3. Duduk di Mana?: Saat duduk tawarruk, pantat kita tidak duduk di atas mata kaki kiri seperti saat iftirasy. Justru, pantat kita langsung duduk di atas lantai atau tempat shalat.

Jadi intinya, saat tawarruk, kita “menyandarkan” berat badan kita langsung ke lantai dengan posisi kaki kiri yang menjulur keluar ke kanan dan kaki kanan yang tegak. Ini beda banget sama iftirasy yang mana kita duduk menindih mata kaki kiri.

Kapan Duduk Tawarruk Dilakukan dalam Shalat?

Ini nih poin penting yang sering jadi pertanyaan. Duduk tawarruk tidak dilakukan di setiap gerakan duduk dalam shalat. Kapan tepatnya kita melakukan duduk tawarruk?

Mayoritas ulama dan praktik yang shahih menunjukkan bahwa duduk tawarruk dilakukan pada tasyahhud akhir (tahiyat akhir) dalam shalat yang memiliki dua tasyahhud. Contohnya pada shalat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Shalat-shalat ini kan ada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir. Nah, di tasyahhud akhir itulah kita duduk tawarruk.

Bagaimana dengan shalat yang hanya memiliki satu tasyahhud saja, seperti shalat Subuh, shalat witir, atau shalat sunnah dua rakaat? Dalam shalat seperti ini, tasyahhud yang ada adalah tasyahhud akhir (karena tidak ada tasyahhud awal). Menurut sebagian ulama, dalam kasus ini pun duduknya adalah duduk iftirasy, bukan tawarruk. Namun, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa karena itu adalah tasyahhud terakhir, maka duduknya tawarruk. Ini termasuk area khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama, tapi yang paling masyhur dan kuat dalilnya adalah tawarruk pada tasyahhud akhir yang didahului tasyahhud awal. Untuk shalat dua rakaat seperti Subuh atau shalat sunnah, duduknya iftirasy.

Jadi, simplenya:
* Shalat 4 rakaat (Zuhur, Asar, Isya): Tasyahhud awal duduk iftirasy, tasyahhud akhir duduk tawarruk.
* Shalat 3 rakaat (Magrib): Tasyahhud awal duduk iftirasy, tasyahhud akhir duduk tawarruk.
* Shalat 2 rakaat (Subuh, shalat sunnah 2 rakaat): Tasyahhud (yang otomatis jadi akhir) duduk iftirasy.

Ini pandangan yang paling umum dan kuat dalilnya berdasarkan hadis-hadis yang menjelaskan tata cara shalat Nabi ï·º.

Tawarruk vs. Iftirasy: Apa Bedanya?

Oke, tadi sudah disebutkan sedikit perbedaannya. Tapi biar makin jelas, yuk kita bandingkan duduk tawarruk dan duduk iftirasy. Ini dua posisi duduk utama dalam shalat yang wajib diketahui.

Fitur Duduk Tawarruk Duduk Iftirasy
Posisi Kaki Kanan Telapak kaki tegak, jari menghadap kiblat Telapak kaki tegak, jari menghadap kiblat
Posisi Kaki Kiri Dijulurkan/dikeluarkan ke samping kanan, di bawah betis kanan atau keluar sepenuhnya Ditekuk ke dalam, telapak kaki menjadi “alas” duduk
Duduk di Mana? Langsung di atas lantai/tempat shalat Di atas telapak kaki kiri
Kapan Dilakukan? Tasyahhud akhir pada shalat yang punya dua tasyahhud (Zuhur, Asar, Magrib, Isya) Antara dua sujud, dan tasyahhud awal (jika ada), serta tasyahhud akhir pada shalat dua rakaat (Subuh, sunnah)

Perbedaan paling mencolok ada pada posisi kaki kiri dan di mana pantat kita menumpu. Di iftirasy, kaki kiri dilipat rata di bawah badan. Di tawarruk, kaki kiri keluar ke samping.

Membedakan kedua posisi ini penting supaya kita bisa mencontoh cara shalat Nabi ï·º dengan lebih akurat. Setiap gerakan dalam shalat itu ada tuntunannya, dan duduk tawarruk adalah salah satunya.

perbedaan duduk tawaruk dan iftirasy
Image just for illustration

Hikmah dan Tujuan Duduk Tawarruk

Kenapa sih Rasulullah ï·º mengajarkan posisi duduk yang berbeda-beda dalam shalat? Pasti ada hikmah di baliknya, kan? Para ulama telah merenungkan hal ini, dan beberapa hikmah yang bisa diambil dari perbedaan duduk tawarruk dan iftirasy antara lain:

  1. Pembeda antara Tasyahhud Awal dan Akhir: Ini hikmah yang paling jelas. Dengan posisi duduk yang berbeda, kita secara fisik membedakan mana tasyahhud awal (yang hanya sunnah dibaca sebagian) dan mana tasyahhud akhir (yang wajib dibaca sempurna hingga doa sebelum salam). Perbedaan gerakan ini juga membantu jemaah masbuk (yang ketinggalan rakaat) untuk mengetahui apakah imam sedang di tasyahhud awal atau akhir. Jika imam duduk tawarruk, berarti itu tasyahhud akhir dan sebentar lagi salam.
  2. Membantu Meningkatkan Kekhusyukan: Pergantian posisi duduk bisa membantu menjaga konsentrasi dan fokus selama shalat. Setiap perpindahan gerakan mengingatkan kita bahwa kita sedang dalam ibadah.
  3. Kenyamanan dan Kesehatan (Potensial): Meskipun tidak ada dalil eksplisit, beberapa penelitian modern mencoba mengaitkan posisi-posisi shalat dengan manfaat kesehatan. Duduk tawarruk mungkin memberikan peregangan berbeda pada otot dan sendi dibandingkan iftirasy. Namun, fokus utama shalat tetaplah ibadah, bukan senam.
  4. Mengikuti Sunnah Rasulullah ï·º: Hikmah terbesar tentu saja adalah ittiba’ (mengikuti) apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ï·º. Beliau shalat dengan cara tersebut, maka kita pun berusaha mencontohnya. Keberkahan shalat ada pada kesesuaiannya dengan tuntunan beliau.

Memahami hikmah di balik gerakan shalat membuat kita tidak hanya sekadar meniru gerakan, tapi juga menghayati ibadah yang kita lakukan.

Dalil Pensyariatan Duduk Tawarruk

Ajaran tentang duduk tawarruk bukan sekadar kebiasaan, melainkan bersumber dari hadis-hadis Nabi Muhammad ï·º. Salah satu hadis yang sering dijadikan rujukan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Dalam hadis tersebut, Ibnu Umar menjelaskan tata cara shalat Nabi ï·º. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ï·º saat duduk di akhir shalat (yang memiliki dua tasyahhud), beliau mendudukkan pantatnya di tanah dan mengeluarkan kaki kirinya ke arah kanan, serta menegakkan kaki kanannya. Ini persis seperti deskripsi duduk tawarruk.

Ada juga hadis dari sahabat Abu Humaid As-Sa’idi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lainnya, yang juga menjelaskan secara rinci tata cara shalat Nabi ï·º. Abu Humaid juga menyebutkan bahwa pada rakaat terakhir, Nabi ï·º mengeluarkan kaki kirinya, menegakkan kaki kanannya, dan duduk di tempat shalat.

Hadis-hadis ini menjadi landasan kuat bagi pensyariatan duduk tawarruk, terutama pada tasyahhud akhir shalat yang empat atau tiga rakaat. Mengikuti dalil ini adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Perbedaan Pendapat (Khilafiyah) dalam Tawarruk

Dalam ilmu fiqih, memang ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait penerapan duduk tawarruk. Perbedaan ini biasanya berpusat pada:

  1. Kapan Tawarruk Dilakukan? Apakah hanya pada tasyahhud akhir yang didahului oleh tasyahhud awal (shalat 3 atau 4 rakaat), atau juga pada tasyahhud akhir apapun, termasuk pada shalat 2 rakaat (Subuh, sunnah)? Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pandangan yang kuat adalah hanya pada tasyahhud akhir yang ada tasyahhud awalnya. Namun, ada juga ulama (misalnya dalam madzhab Syafi’i) yang berpendapat tawarruk dilakukan di semua tasyahhud akhir, meskipun pada shalat 2 rakaat.
  2. Bagaimana Detail Posisinya? Meskipun deskripsi umumnya sama, ada sedikit perbedaan redaksi dalam hadis-hadis yang bisa ditafsirkan berbeda oleh para ulama madzhab mengenai detail posisi kaki kiri (apakah di bawah betis atau keluar sepenuhnya) dan posisi duduk (langsung di lantai atau agak miring).

Perbedaan pendapat ini adalah hal yang wajar dalam fiqih Islam, karena para ulama berusaha memahami dan menerapkan hadis Nabi ï·º. Bagi kita sebagai umat, yang terbaik adalah mengikuti pendapat yang paling kuat dalilnya atau mengikuti tuntunan ulama yang kita yakini keilmuannya. Yang penting, kita berusaha mencontoh Rasulullah ï·º semaksimal mungkin.

Tips Menyempurnakan Duduk Tawarruk

Melakukan duduk tawarruk dengan benar mungkin terasa sedikit canggung atau tidak nyaman bagi sebagian orang, terutama yang belum terbiasa. Tapi jangan khawatir, ini beberapa tips agar duduk tawarrukmu lebih sempurna dan nyaman:

  1. Pahami Posisinya: Pastikan kamu tahu persis di mana posisi kaki kanan, kaki kiri, dan di mana pantatmu seharusnya menumpu. Gunakan deskripsi di atas sebagai panduan.
  2. Latihan: Jika masih terasa aneh, coba latih posisi ini di luar shalat sebentar. Ini membantu tubuhmu terbiasa dengan gerakan tersebut.
  3. Fleksibilitas: Jangan kaku. Tubuh manusia berbeda-beda. Usahakan mencapai posisi yang mendekati sunnah tapi tetap nyaman bagimu. Jika terlalu sakit atau sulit, jangan memaksakan diri hingga cedera.
  4. Alas Shalat: Gunakan alas shalat yang nyaman. Karpet atau sajadah yang cukup tebal bisa mengurangi tekanan langsung pada tulang pantat saat duduk di lantai.
  5. Fokus pada Tumakninah: Apapun posisinya, yang terpenting adalah tumakninah, yaitu berhenti sejenak dalam setiap gerakan shalat hingga tubuh tenang. Jangan terburu-buru saat duduk tawarruk.

Dengan sedikit latihan dan perhatian pada detail, duduk tawarruk yang benar akan terasa lebih alami seiring waktu.

Bagaimana Jika Sulit Melakukan Duduk Tawarruk?

Islam adalah agama yang memudahkan. Jika kamu memiliki keterbatasan fisik, sakit, atau lanjut usia sehingga sulit atau tidak memungkinkan melakukan duduk tawarruk dengan sempurna sesuai deskripsi, maka jangan memaksakan diri.

Agama memberikan rukhsah (keringanan). Jika tidak bisa tawarruk, duduklah semampunya dalam posisi yang paling nyaman bagimu saat tasyahhud akhir, meskipun itu adalah posisi iftirasy atau bahkan duduk di kursi jika memang sangat diperlukan.

Yang penting adalah niat untuk mencontoh Rasulullah ï·º dan melakukan shalat dengan khusyuk dalam kondisi terbaik yang bisa kita capai. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Duduk Tawarruk dan Khusyuk dalam Shalat

Setiap gerakan dalam shalat, termasuk posisi duduk tawarruk, seharusnya membantu kita mencapai khusyuk. Dengan memahami dan melakukan gerakan shalat sesuai tuntunan, kita menunjukkan ketaatan dan penghormatan kita kepada Allah.

Ketika kita melakukan tawarruk dengan benar di waktu yang tepat, ini bukan hanya soal fisik, tapi juga mental. Ini adalah pengingat bahwa kita sedang berada di bagian krusial shalat, yaitu tasyahhud akhir, momen di mana kita membaca shalawat kepada Nabi, berdoa sebelum salam, dan mengingat Allah. Posisi ini bisa menjadi “pengunci” konsentrasi kita di akhir shalat.

Maka, mari kita perbaiki shalat kita sedikit demi sedikit, termasuk dalam urusan duduk tawarruk ini. Semoga setiap upaya kita dalam mencontoh Rasulullah ï·º dicatat sebagai amal saleh dan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah.

Itulah penjelasan lengkap mengenai apa yang dimaksud duduk tawarruk dalam shalat. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah wawasan kita dalam beribadah.

Bagaimana pengalamanmu dengan duduk tawarruk? Apakah kamu pernah merasa kesulitan atau punya tips lain? Yuk, berbagi di kolom komentar!

Posting Komentar